Kisah Mbok Yem, Berjualan Makanan di Puncak Gunung Lawu

Kisah Mbok Yem, Berjualan Makanan di Puncak Gunung Lawu

Bagi Anda yang gemar mendaki dan pernah singgah di Gunung Lawu, pastinya tak asing dengan sosok Mbok Yem. Beliau adalah sosok sederhana yang sudah berjualan di gunung ini lebih dari 30 tahun. Ialah satu-satunya penjual makanan di atas ketinggan Gunung Lawu yang bisa Anda temui. Pantas saja, ia cocok menerima anugerah asuransi wakaf.

Rumah Makan yang Berdiri Tak Jauh dari Puncak Gunung Lawu

Mbok Yem yang memiliki nama asli Wagiyem ini telah berusia lebih dari 60 tahun. Tubuhnya agak gempal dan sebenarnya ia bukanlah orang asli di sekitaran Gunung Lawu. Ia hanya perantau yang sesekali saja pulang kampung. Warung makan Mbok Yem sendiri terbilang sangat unik, letaknya tak jauh dari puncak Gunung Lawu.

Kisah Mbok Yem, Berjualan Makanan di Puncak Gunung Lawu

Bila diukur, rumah makan milik Mbok Yem ini berdiri di ketinggian 3.150 mdpl atau hanya berselisih 115 mdpl saja dari Puncak Gunung Lawu. Ia sudah berjualan di Gunung ini sejak tahun 1980-an dan tetap bertahan hingga sekarang. Coba saja tanya kapan ia akan berhenti dari aktivitasnya berjualan di Gunung Lawu.

Maka, ia akan dengan tenang menjawab bahwa selagi masih kuat bekerja, dia akan tetap berjualan di sana. Warung makan Mbok Yem sendiri hanya terbuat dari kayu. Bentuknya pun sangat sederhana dan hanya diberi beberapa reklame saja yang menandakan bahwa di tempat itu ada warung makan.

Bukan Hal yang Mudah

Tentu saja, berjualan di dekat Puncak Gunung Lawu bukan hal yang mudah, terlebih untuk wanita yang telah lanjut usia. Sebelum berjualan di tempat sekarang, beliau memang sudah berjualan di Gunung Lawu. Hanya saja, tempatnya berpindah-pindah. Ia telah mencoba semua jalur pendakian di Gunung Lawu dan dirasa tempat sekarang ini paling cocok.

Hal lain yang membuat berjualan di sini tak pernah mudah adalah banyaknya mitos mistis yang berkembang di sekitar. Selain itu, beliau juga terus merasakan cuaca ekstrem dengan angin kecang dan udara dingin hingga 5 derajat celcius hampir setiap hari. Ketika harus membeli bahan makanan untuk dijual pun, dia harus naik turun gunung lebih dulu.

Untungnya, tidak semua bahan makanan ia dapatkan sendiri. Ada orang yang membantunya  untuk mengantarkan bahan yang diperlukan. Orang tersebut akan datang dalam waktu tiga kali seminggu. Menariknya lagi, Mbok Yem hanya sendirian di sini. Dulu, ia dibantu sang anak.

Namun sekarang, anaknya sudah berkeluarga dan ikut suaminya. Kini, ia pun makin jarang turun gunung untuk kembali ke kampung halaman tempat anak dan cucunya berada. Paling, hanya setahun sekali saja dan itupun saat lebaran. Dari warung ini, Mbok Yem bisa melayani hingga 300 pendaki setiap hari.

Makanan yang ia jualpun sangat terjangkau harganya. Hanya sekitar Rp10.000,- saja per porsi. Pilihan makanannya pun cukup banyak, ada pecel, nasi goreng, kopi, telur dan berbagai macam gorengan.

Asuransi Allianz Wakaf

Sosok Mbok Yem yang kuat mencari nafkah di tengah dinginnya Gunung Lawu memang patut diacungi jempol dan patut menerima anugerah Allianz wakaf. Dengan ini, ia bisa memperoleh berbagai perlindungan seperti santunan asuransi jiwa, santunan penyakit kritis, santunan asuransi cacat total dan masih banyak lainnya dengan nominal yang cukup besar.

Sosok sederhana Mbok Yem yang rela berjualan di ketinggian Gunung Lawu memang sangat menginspirasi. Tentu saja, dengan ini ia berhak atas asuransi wakaf dari Allianz. Dengan asuransi tersebut, hidupnya yang sudah renta bisa lebih baik dan lebih aman untuk ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *